Info Sulawesi Barat News
Home » Berita » IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN DI KEMENKES RI JADI INSPIRASI BHABINKAMTIBMAS SEBAGAI AGEN AKSELERASI ELIMINASI TBC DI SULAWESI BARAT

IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN DI KEMENKES RI JADI INSPIRASI BHABINKAMTIBMAS SEBAGAI AGEN AKSELERASI ELIMINASI TBC DI SULAWESI BARAT

foto; Peserta Pelatihan Kepemimpinana Nasional TK.II bersama Mentri Kesehatan RI

JAKARTA, SULBAR INFO – Penguatan peran Bhabinkamtibmas sebagai ujung tombak deteksi dan pendampingan pasien Tuberkulosis / TBC di Sulawesi Barat mendapat dorongan kuat setelah mengikuti rangkaian pembelajaran strategis di Kementerian Kesehatan RI.

Pembelajaran tersebut dilaksanakan di Kantor Kementerian Kesehatan Jakarta, 8 – 10 Juli 2026. Kegiatan ini diikuti oleh peserta Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat II Angkatan XV dari BBPK Jakarta yang berasal dari berbagai instansi.

Isu strategis yang diangkat adalah “Akselerasi Eliminasi TBC melalui Patroli Pendampingan KETUK DOORS Bhabinkamtibmas Berbasis Data SITT Kemenkes di Sulawesi Barat”. Program ini digagas oleh AKBP Dr. dr. Mauluddin M., S.Sos., M.H., Sp.FM dari Biddokkes Polda Sulbar.

Ketua DPP IJS Sulbar Kunker ke Pasangkayu, Perkuat Solidaritas

Terdapat 6 (enam) Materi Strategis jadi bekal transformasi.
Sepanjang hari, peserta mendapatkan paparan langsung dari para pejabat tinggi Kemenkes dan perwakilan WHO.

Pertama, dr. Azhar Jaya, S.H, SKM, MARS, Dirjen Kesehatan Lanjutan, menekankan pentingnya “Strengthening National Health Resilience Through Healthcare System”. Menurutnya, ketahanan sistem kesehatan harus dibangun dari bawah melalui integrasi data dan penguatan layanan primer. Model surveilans berbasis komunitas seperti KETUK DOORS dinilai sejalan dengan 6 Pilar Transformasi Kesehatan.

Kedua, Indah Febrianti, S.H., M.H., Staf Ahli Bidang Hukum Kesehatan, memaparkan “Kepemimpinan Reformasi Kebijakan: Pembelajaran dari Penyusunan dan Pengesahan Undang-Undang Kesehatan”. Ia menegaskan UU Kesehatan No. 17 Tahun 2023 memberi payung hukum kuat untuk integrasi data lintas sektor, termasuk sinergi Polri, Puskesmas, dan Dinkes.

 

Ketiga, Ms. Deki dari WHO, mengangkat isu “Global Health Issue”. Ia mengingatkan TBC masih menjadi salah satu dari 10 penyebab kematian tertinggi di dunia. Target Indonesia Bebas TBC 2030 hanya bisa dicapai jika ada inovasi deteksi aktif di tingkat komunitas.

Sigap Respon Laporan Call Center 110, Personel Polresta Mamuju Selamatkan Pelajar yang Diduga Coba Bunuh Diri

Keempat, Bonanza Perwira Taihitu, Staf Ahli Bidang Politik dan Globalisasi Kesehatan, berbicara tentang “Strategic Health Diplomacy: Indonesia’s Journey in Advancing Health Transformation through Global Engagement and Partnerships”. Inovasi daerah, katanya, dapat memperkuat posisi Indonesia dalam kerja sama kesehatan global. Data yang baik dan program yang terukur akan menjadi kunci.

Kelima, Kunta Wibawa Dasa Nugraha, S.E., M.A., Ph.D., Sekretaris Jenderal Kemenkes, berbagi “Strategic Planning in the Ministry of Health: Lessons Learned from the Development of RIBK”. Beliau menekankan pentingnya perencanaan berbasis bukti dan monitoring real-time agar kebijakan tepat sasaran dan dapat dievaluasi.

Keenam dan terakhir, Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan RI menutup dengan “Ceramah Strategic Leadership: Leading Change and Organizational Transformation”. Menkes menegaskan pemimpin harus berani memutus silo, menggunakan data untuk mengambil keputusan cepat, dan menjadikan teknologi sebagai alat pelayanan, bukan tujuan.

Bhabinkamtibmas sebagai Agen Akselerasi.
Dari 6 pembelajaran tersebut dirumuskan bahwa Bhabinkamtibmas memiliki posisi strategis. Dengan wilayah binaan 1 orang 1 desa, mereka dapat menjalankan fungsi KETUK DOORS.

Polsek Kalukku Bersama Warga Berhasil Tangkap Pelaku Pencurian Mesin Katinting yang Resahkan Nelayan Pesisir Kapandeang

“Belajar langsung dari Kemenkes dan WHO memperkuat keyakinan kami. Bhabinkamtibmas bukan hanya menjaga Kamtibmas, tapi juga bisa jadi agen akselerasi kesehatan. Data dari patroli mereka akan kita integrasikan ke SITT Kemenkes melalui Dashboard KETUK DOORS,” ujar AKBP Mauluddin.

Pendekatan ini menekankan prinsip data-driven, kolaboratif, dan birokrasi adaptif agar pelaporan dan penanganan TBC di Sulbar dapat berjalan lebih cepat dan akurat.

Roadmap Jangka Pendek.
Tindak lanjut pembelajaran ini akan dimulai dengan pelatihan Bhabinkamtibmas, integrasi data dengan SITT, dan uji coba dashboard di 2 Polres percontohan. Targetnya mendukung Indonesia Bebas TBC 2030 dengan peningkatan deteksi dan angka kesembuhan >85%.

“Satu Ketukan, Sejuta Harapan. Itulah semangat kami. Kesehatan masyarakat adalah tanggung jawab bersama,” tutup Mauluddin.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *