MAMUJU – Hasil pembelajaran internasional ditransformasi menjadi aksi nyata. Peserta Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat II Angkatan XV BBPK Jakarta dari Polda Sulawesi Barat memperkuat Proyek Perubahan “KETUK DOORS” usai mengikuti Visitasi Agenda di Singapura, 13–17 Juli 2026 dalam rangkaian Singapore Cooperation Programme / SCP.
Kegiatan bertema: “Aktualisasi Kepemimpinan Strategis” ini dibimbing oleh Dr. Ina Yuniari, Dipl., M.Sc selaku Widyaiswara Ahli Utama BBPK Jakarta Kemenkes dan diikuti oleh Kelompok 3 (tiga) yang diketuai oleh AKBP Dr. dr. Mauluddin M., S.Sos., M.H., Sp.FM, personel Biddokkes Polda Sulbar.
Bersama peserta lintas sektor, rombongan mendapatkan pembekalan langsung dari Civil Service College Singapore / CSC dan belajar sistem kesehatan Singapura yang menjadi rujukan dunia.

Anggota Kelompok 3 (tiga) terdiri dari 10 (sepuluh) orang, yaitu:
Kemenkes RI: 7 (tujuh) orang yaitu Elfira, Ade Palupi Muchtar, Ahadi Wahyu Hidayat, Anggriany Rauf, Muhammad Zulfikar Biruni, Nursiah, dan Solihah Widyastuti.
Polri: 2 (dua) orang yaitu Mauluddin M dan Dhiwangkoro Aji Kadarmo.
BNN: 1 (satu) orang yaitu Rose Iptriwandhani.
“Selama 5 hari di Singapura, kami tidak hanya belajar teori kepemimpinan. Para pemateri dari Civil Service College mengajak kami melihat bagaimana integritas, data, dan inovasi menjadi DNA birokrasi Singapura,” ungkap AKBP Mauluddin.
Terdapat 5 (lima) Lesson Learned Kunci untuk KETUK DOORS:
1. Integritas dan Layanan Terpadu di Komunitas.
Kunjungan ke “Kampung Admiralty” membuka wawasan tentang satu gedung yang mengintegrasikan klinik dan pusat sosial untuk lansia. Model ini diadaptasi ke dalam KETUK DOORS melalui peran “Bhabinkamtibmas sebagai Agen Kesehatan”.
“Tanpa integritas dan tata kelola yang kuat, program kesehatan secanggih apapun akan sulit berjalan. Kepemimpinan dimulai dari memberi teladan.”
Pesan “Lee Kuan Yew” yang disampaikan pemateri CSC: “Zero tolerance for corruption”. Integritas adalah fondasi. Tanpa itu, sistem terbaik pun akan runtuh.

2. Penguatan Layanan Primer dan Humanisasi.
Di “Poliklinik Ang Mo Kio” peserta belajar bahwa pencegahan harus menjadi prioritas.
Sementara kunjungan ke “RS Raffles, Khoo Teck Puat, dan Yishun Community Hospital” menunjukkan rumah sakit harus menyembuhkan melalui taman, cahaya alami, dan teknologi berbasis data real-time.
“Data adalah kompas. Setiap keputusan di Singapura dimulai dari data,” menjadi salah satu dari 7 benang merah yang ditarik.
3. Berani Berinovasi dan Kolaborasi Lintas Sektor.
Inspirasi terbesar datang dari “Fasilitas Produksi Nyamuk Wolbachia” dan konsep “One Health” yaitu pendekatan Kesehatan yang menyatukan kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan sebagai satu sistem yang saling terkait. Singapura menunjukkan keberanian mengubah riset laboratorium menjadi program nasional untuk menurunkan DBD.
“Pemimpin di sektor publik harus berani menjadi wirausaha. Mencoba hal baru berbasis data dan sains, demi kebaikan masyarakat.”
4. Kepemimpinan Berbasis Visi dan Desain Kota Sehat.
Kunjungan ke “Gardens by the Bay” mengajarkan bahwa pemimpin harus punya visi jangka panjang. Dari lahan reklamasi, Singapura membangun taman masa depan yang menyejukkan kota dan meningkatkan kualitas hidup.
“Sebuah visi tanpa aksi adalah mimpi. Aksi tanpa visi adalah mimpi buruk. Kepemimpinan adalah menjembatani keduanya,” menjadi refleksi kelompok.
5. Membangun SDM Kreatif Sejak Dini.
Di acara jamuan table manner oleh Kementerian Luar Negeri Singapura dan simulasi permainan Lego dalam diskusi, peserta melihat bagaimana negara membangun kemitraan, menanamkan budaya inovasi, dan kreativitas sejak kecil. Terkhusus main Lego bukan sekadar mainan, tapi melatih problem solving, kolaborasi, dan berpikir sistem.
“Investasi terbesar sebuah bangsa adalah pada manusia. Dan investasi itu dimulai dari keberanian untuk bermain, mencoba, dan gagal,” ungkap AKBP Mauluddin dalam laporannya.
Komitmen Tindak Lanjut di Sulbar.
Usai visitasi agenda di Singapura melalui SCP dan pembekalan CSC, lahir komitmen untuk menguatkan KETUK DOORS dengan 5 langkah:
1. Mengusulkan “Tim One Health Daerah yaitu pendekatan Kesehatan yang menyatukan kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan sebagai satu sistem yang saling terkait.
2. Menguatkan Pelayanan Primer, agar puskesmas jadi pusat pencegahan.
3. Mendorong Penggunaan Data, melalui dashboard kasus di tiap wilayah.
4. Membangun Budaya Belajar, dengan evaluasi tiap program.
5. Menjadi Agen Perubahan, dimulai dari diri sendiri.
“Berani, Berdata, Berkolaborasi” menjadi 3 kata kunci yang dibawa pulang dari Singapura.
“Visitasi ini tidak boleh berhenti sebagai laporan. Ia harus menjadi awal. Awal dari proyek percontohan kecil di tempat tugas kami,” tegas AKBP Mauluddin.
Dengan tagline “Satu Ketukan, Sejuta Harapan, Sulbar Bebas TBC”, KETUK DOORS menargetkan peningkatan penemuan kasus dan angka kesembuhan >85% untuk mendukung “Indonesia Bebas TBC 2030”.



Comment