Mamuju : Kepala Dinas Kelautan dan Prikanan ( DKP ) Provinsi Sulawesi barat, Dr. Suyuti menanggapi banyaknya nelayan di Sulbar migrasi ke berbagai kota di Indonesia.
Nelayan Mandar telah lama dikenal sebagai pelaut ulung dengan keterampilan bahari yang diwariskan secara turun-temurun. Keahlian mereka dalam menangkap ikan, khususnya tuna dengan metode pancing atau hand line, menjadikan mereka aset berharga dalam industri perikanan nasional.
Suyuti yg pernah mengenyam pendidikan di Negara Inggris dan Amerika itu menjelaskan minimnya infrastruktur pelabuhan di Sulbar menjadi salah satu penyebab utama belum adanya perusahaan perikanan besar yang dapat membeli ikan dengan harga tinggi langsung dari nelayan lokal.
” kita terus mendorong agar investasi dibidang prikanan di Sulbar terus meningkat meski masih terbatas dari segi pembangunan infrastuktur,” ujarnya
Padahal, jika didukung dengan fasilitas yang memadai, Sulbar memiliki potensi besar untuk menjadi pusat perikanan yang dapat memasok kebutuhan ikan, termasuk untuk mendukung suplai pangan ke Ibu Kota Nusantara (IKN).
” oleh karena itu, perhatian terhadap pengembangan infrastruktur perikanan di Sulbar sangat diperlukan, baik dalam bentuk pembangunan pelabuhan perikanan, peningkatan fasilitas rantai dingin, maupun dukungan kebijakan yang mendorong investasi sektor perikanan,” kata Alumnni Universitas Hasanuddin ini
Dengan begitu, nelayan Mandar tidak perlu lagi bermigrasi jauh untuk meningkatkan taraf hidupnya, melainkan dapat berkembang di daerahnya sendiri dan berkontribusi lebih besar bagi ekonomi lokal serta ketahanan pangan nasional.
Saat ini, nelayan Mandar tersebar di sedikitnya 10 kota perikanan utama seperti Larantuka, Lombok, Kendari, Bone, Makassar, Pare-pare Lero, Gorontalo, Donggala, Bontang, Balikpapan dan wilayah lain nya.



Comment